LISTRIK

Emil Dardak Tegaskan Kesiapan Listrik Jawa Timur Hadapi Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah

Emil Dardak Tegaskan Kesiapan Listrik Jawa Timur Hadapi Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah
Emil Dardak Tegaskan Kesiapan Listrik Jawa Timur Hadapi Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah

JAKARTA - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memberikan jaminan bahwa pasokan listrik di seluruh wilayah Jawa Timur dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang dan selama bulan suci Ramadan hingga perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Pernyataan itu disampaikan Emil dalam kunjungan kerja ke fasilitas PT PLN (Persero) yang mengelola jaringan transmisi dan beban listrik di kawasan Jawa Timur dan Bali.

Kondisi Pasokan dan Kapasitas Sistem Kelistrikan Jawa Timur

Dalam keterangan persnya pada 22 Februari 2026, Emil menegaskan bahwa dari sisi daya listrik, Jawa Timur berada dalam kondisi stabil dan memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi listrik masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri. Data internal dari PLN menunjukkan bahwa puncak beban listrik tertinggi di provinsi ini mencapai angka 2.036 megawatt pada subsistem Krian–Gresik, sementara total Daya Mampu Netto (DMN) mencapai 2.638 megawatt. Dengan demikian, terdapat cadangan daya sekitar 22 persen atau sekitar 602 megawatt yang siap dialokasikan jika terjadi lonjakan konsumsi listrik.

Emil menggarisbawahi bahwa ketersediaan cadangan daya yang memadai merupakan faktor kunci dalam menjaga stabilitas pasokan listrik. Ia juga menekankan bahwa sistem kelistrikan harus selalu berada dalam kondisi seimbang, terutama ketika aktivitas masyarakat berubah signifikan karena kebiasaan ibadah dan konsumsi listrik selama bulan Ramadan.

Strategi Operasional PLN untuk Masa Siaga RAFI

Untuk menjamin layanan listrik yang andal di tengah masa siaga Ramadan dan Idul Fitri (RAFI), PT PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) telah menyiagakan sejumlah upaya strategis. Unit tersebut mengoperasikan 22 posko siaga yang tersebar di wilayah Jawa Timur dan Bali, dengan dukungan total 1.207 personel. Infrastruktur kelistrikan yang menjadi tulang punggung sistem ini melibatkan 173 gardu induk, 394 unit trafo dengan kapasitas total 29.195 megavolt-ampere (MVA), serta jaringan transmisi sepanjang lebih dari 8.300 kilometer sirkuit.

Dengan penguatan jaringan seperti ini, PLN berharap mampu meminimalkan risiko gangguan pada sistem distribusi listrik, terutama pada titik-titik dengan beban tinggi yang rentan mengalami tekanan jaringan saat puncak konsumsi. Emil menilai bahwa langkah-langkah ini penting untuk menciptakan layanan listrik yang stabil dan minim gangguan bagi masyarakat.

Penguatan Jaringan dan Pengembangan Sistem

Meski secara umum situasi pasokan listrik Jawa Timur dipandang cukup, Emil tidak menutup mata terhadap kebutuhan perbaikan dan pengembangan infrastruktur jangka panjang. Salah satu fokusnya adalah penguatan jaringan di kawasan metropolitan Gerbangkertosusila, terutama melalui pembangunan Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITET) di Waru. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada gardu induk utama di Krian dan Gresik, serta meningkatkan keandalan distribusi listrik di wilayah padat penduduk.

Selain itu, Emil juga menyarankan optimalisasi jaringan melalui metode uprating, yang memungkinkan peningkatan kapasitas pada jaringan yang sudah ada tanpa harus membangun infrastruktur baru di semua lokasi. Upaya semacam ini dianggap lebih efektif dalam mengatasi potensi tekanan beban di titik-titik tertentu, sekaligus sebagai bentuk kesiapan menghadapi kebutuhan energi di masa mendatang.

Kritikalitas Keseimbangan Sistem Kelistrikan

Dalam pembahasannya, Emil kembali menegaskan bahwa persoalan pasokan listrik tidak hanya berkaitan dengan cukup atau tidaknya daya, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan dan stabilitas sistem kelistrikan secara keseluruhan. Dalam beberapa tahun terakhir, tren beban listrik selama Ramadan dan Idul Fitri justru menunjukkan penurunan sekitar 30 persen dibanding hari normal. Kondisi semacam ini memerlukan penyesuaian real-time dalam pengendalian sistem agar tegangan listrik tetap stabil dan tidak berdampak negatif pada jaringan serta peralatan pengguna akhir.

Pengendalian ketat dan koordinasi antara pihak PLN dengan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas layanan, terutama di titik-titik strategis yang sering menjadi perhatian publik. Hal ini menjadi bagian dari strategi operasional untuk memastikan bahwa setiap gangguan atau ketidakseimbangan daya dapat ditangani secara cepat dan tuntas.

Komitmen Pemerintah dan Harapan Masyarakat

Keseluruhan pernyataan resmi dari Wakil Gubernur ini menunjukkan bagaimana pemerintah daerah bekerja sama dengan PLN untuk menjamin layanan dasar yang krusial bagi masyarakat. Dalam suasana bulan suci dan perayaan besar keagamaan, kebutuhan listrik tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga tetapi juga aktivitas masyarakat yang meningkat, seperti penerangan masjid, kegiatan komunitas, serta sektor usaha yang tetap beroperasi.

Dengan berbagai kesiapan teknis yang dilakukan, diharapkan masyarakat Jawa Timur dapat menjalankan ibadah dan aktivitas harian dengan tenang tanpa kekhawatiran adanya gangguan pasokan listrik. Pemerintah dan pihak terkait pun terus memantau dan menyesuaikan strategi sesuai perkembangan kebutuhan di lapangan selama periode RAFI ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index