JAKARTA - Harga minyak dunia cenderung bergerak stabil menjelang perundingan penting antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik di Timur Tengah.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$66 per barel setelah ditutup sedikit lebih rendah pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent menetap di bawah level US$71.
Delegasi AS, termasuk utusan khusus Steve Witkoff, dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Kamis (26 Februari 2026) di Jenewa untuk melakukan pembicaraan, saat pasukan Amerika mulai disiagakan di Timur Tengah.
Pasar minyak saat ini berada dalam tekanan dua faktor utama, yaitu kekhawatiran kelebihan pasokan global pada tahun ini serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran.
Pasar Minyak Menanti Hasil Perundingan
Pergerakan harga minyak cenderung terbatas karena pelaku pasar memilih menunggu perkembangan pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran. Ketidakpastian hasil negosiasi membuat investor berhati-hati dalam mengambil posisi perdagangan.
Risiko geopolitik tersebut mulai tercermin di pasar opsi, di mana para pelaku pasar masih cenderung bertaruh pada kenaikan harga seiring volatilitas yang tetap tinggi.
Di sisi lain, ekspektasi pasar yang memperkirakan kondisi kelebihan pasokan minyak global pada tahun ini menjadi faktor yang menahan penguatan harga lebih lanjut. Kombinasi dua sentimen tersebut membuat harga minyak bergerak dalam rentang sempit.
Kondisi ini mencerminkan sikap pasar yang masih menunggu kepastian arah kebijakan dan perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan Timur Tengah Masih Membayangi
Situasi geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi harga minyak dunia. Kekhawatiran akan konflik di kawasan tersebut telah mendorong sejumlah produsen terbesar meningkatkan ekspor mereka.
Ketegangan yang meningkat juga membuat Amerika Serikat meningkatkan kesiagaan militernya di kawasan tersebut menjelang perundingan yang akan berlangsung di Jenewa.
Para pelaku pasar menilai setiap perkembangan terkait Iran memiliki dampak langsung terhadap prospek pasokan minyak global, mengingat kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.
Oleh karena itu, setiap sinyal eskalasi konflik atau sebaliknya kemajuan diplomatik dapat memicu pergerakan harga minyak secara signifikan.
Diplomasi Masih Jadi Prioritas Amerika Serikat
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya lebih mengutamakan solusi diplomatik terkait program nuklir Iran. Namun, ia juga memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi yang mungkin terjadi apabila kesepakatan tidak tercapai.
Sebagai bagian dari tekanan menjelang perundingan, Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi baru terhadap lebih dari 30 entitas yang dituduh mendukung penjualan minyak dan senjata Iran.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap berjalan bersamaan dengan kebijakan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Kebijakan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam memproyeksikan arah harga minyak.
Prospek Harga Masih Tidak Pasti
Harga minyak dunia diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Hasil pembicaraan tersebut berpotensi menentukan arah pergerakan harga dalam jangka pendek.
Jika negosiasi menghasilkan kemajuan signifikan, risiko konflik dapat mereda dan menekan harga minyak. Sebaliknya, kegagalan pembicaraan berpotensi meningkatkan ketegangan dan mendorong kenaikan harga.
Untuk saat ini, pasar masih menunggu kepastian dari perundingan yang akan berlangsung di Jenewa sebelum menentukan arah pergerakan selanjutnya.