Nilai Ekspor Batu Bara RI Teratas di Antara Komoditas Tambang pada 2025

Sabtu, 21 Februari 2026 | 10:45:30 WIB
Nilai Ekspor Batu Bara RI Teratas di Antara Komoditas Tambang pada 2025

JAKARTA - Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun terjadi kontraksi, batu bara tetap menjadi tulang punggung ekspor komoditas pertambangan Indonesia pada 2025 dengan nilai tertinggi dibandingkan hasil tambang lainnya. Nilai ekspor hasil tambang Indonesia secara keseluruhan mencapai US$35,36 miliar pada 2025, namun komoditas batu bara menyumbang porsi terbesar dalam total tersebut.

Dominasi Batu Bara di Tengah Pelemahan Ekspor Pertambangan

BPS mencatat bahwa total nilai ekspor hasil tambang Indonesia pada 2025 mencapai US$35,36 miliar, tidak termasuk hasil pertambangan minyak dan gas. Dari jumlah itu, batu bara menempati posisi dominan sebagai komoditas dengan nilai ekspor terbesar, yakni sebesar US$24,48 miliar setara dengan sekitar 69 persen dari total ekspor hasil tambang nasional.

Nilai ekspor batu bara ini meskipun menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, tetap lebih tinggi daripada komoditas lain seperti lignit, bijih tembaga, dan batu kerikil. Nilai ekspor lignit tercatat US$5,73 miliar, bijih tembaga US$4,89 miliar, dan batu kerikil sebesar US$64,9 juta. Komoditas lain yang menyumbang ekspor nasional secara keseluruhan hanya mencapai US$190,8 juta.

Penurunan nilai ekspor batu bara ini tidak terlepas dari tren global yang menunjukkan pelemahan permintaan dan harga komoditas energi fosil seiring dengan dorongan transisi energi di berbagai negara maju. Namun sebagai komoditas unggulan Indonesia, batu bara tetap menempati urutan teratas dalam struktur ekspor hasil tambang nasional pada 2025.

Faktor Penopang dan Tantangan bagi Ekspor Batu Bara Indonesia

Salah satu faktor yang menjaga posisi batu bara adalah ketergantungan negara-negara pengimpor utama terhadap bahan bakar energi fosil ini, terutama di Asia. Meski demikian, permintaan global mengalami tekanan akibat pergeseran menuju energi terbarukan dan kebijakan domestik negara tujuan yang mulai mengurangi penggunaan batu bara. Perubahan tersebut turut berdampak pada nilai ekspor batu bara Indonesia yang mengalami kontraksi dibandingkan periode sebelumnya.

Selain tantangan permintaan, ekonomi global yang melambat turut menekan harga batu bara di pasar internasional. Tahun 2025 mengamati fluktuasi harga batu bara yang cenderung turun, sehingga menekan nilai total ekspor meskipun volume yang diekspor tetap tinggi. Penurunan ini mencerminkan dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari kebijakan energi hingga kondisi perekonomian global.

Namun demikian, batu bara tetap menjadi kontributor terbesar terhadap neraca perdagangan Indonesia, mengingat volume produksinya yang besar dan permintaan yang stabil dari sejumlah negara di Asia. Struktur ekspor Indonesia yang masih bergantung pada batu bara menandai tantangan dalam diversifikasi ekspor energi, sekaligus menunjukkan peran strategis komoditas ini dalam perekonomian nasional.

Posisi Relatif Komoditas Tambang Lainnya

Komoditas pertambangan selain batu bara juga mengalami tekanan pada nilai ekspornya. Lignit, misalnya, menjadi komoditas dengan nilai ekspor terbesar kedua di bawah batu bara, namun nilainya tercatat mengalami penurunan 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bijih tembaga bahkan mencatat penurunan lebih tajam, yakni sebesar 38,6 persen, menunjukkan volatilitas permintaan dan harga di pasar global.

Sementara itu, komoditas seperti batu kerikil menunjukkan kinerja yang lebih baik dari sisi pertumbuhan meskipun nilainya jauh di bawah batu bara. Nilai ekspor batu kerikil meningkat sekitar 17,4 persen, menandakan bahwa ada segmen tambang tertentu yang masih menunjukkan peluang ekspor positif meskipun dalam skala yang lebih kecil.

Rinciannya menggambarkan bahwa meskipun nilai ekspor komoditas lain juga mengalami penurunan, dominasi batu bara tetap tak tergoyahkan dalam struktur ekspor hasil tambang Indonesia selama 2025. Hal ini mencerminkan tantangan untuk meningkatkan kontribusi komoditas non-batu bara dalam perekonomian ekspor nasional.

Impak Ekspor Batu Bara terhadap Ekonomi Indonesia

Kontribusi batu bara terhadap ekspor nasional tidak hanya dilihat dari nilai ekonomi langsung, tetapi juga dari perannya dalam menopang neraca perdagangan dan pendapatan negara. Batu bara berperan sebagai komoditas unggulan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pemasukan devisa negara, terutama di tengah melambatnya permintaan ekspor komoditas lain.

Walaupun nilai ekspornya turun, batu bara tetap menjadi salah satu komoditas unggulan yang membantu menjaga keseimbangan perdagangan Indonesia. Ke depannya, tantangan bagi sektor ini adalah bagaimana menghadapi tekanan global, termasuk peralihan energi bersih dan kebijakan lingkungan yang ketat, tanpa kehilangan pangsa pasar yang telah dibangun selama ini.

Strategi peningkatan efisiensi produksi, diversifikasi produk, serta pengembangan pasar baru menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku industri batu bara Indonesia untuk menjaga posisi komoditas ini di pasar global. Keberlanjutan ekspor batu bara akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan dinamika perdagangan dan tren energi global.

Terkini